Apa
itu student company??? Sebelum kita membahas apa itu student company (SC)
terlebih dahulu kita tengok kurikulum abad 21. Pada
kurikulum 2013 diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21.
Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif. Adapun pembelajaran
abad 21 mencerminkan empat hal.
1. Communication
Abad 21 adalah abad digital. Komunikasi dilakukan
melewati batas wilayah negara dengan menggunakan perangkat teknologi yang
semakin canggih. Internet sangat membantu manusia dalam berkomunikasi. Saat ini
begitu banyak media sosial yang digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi.
Melalui smartphone yang dimilikinya, dalam hitungan detik,
manusia dapat dengan mudah terhubung ke seluruh dunia.
2. Collaboration
Sukses bukan hanya dimaknai sebagai
sukses individu, tetapi juga sukses bersama, karena pada dasarnya manusia
disamping sebagai seorang individu, juga makhluk sosial. Saat ini banyak orang
yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang
mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan
menghambat jalan menuju
kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvard University, kesuksesan
seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skill. Kolaborasi
merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang.
3. Critical Thinking and
Problem Solving
Memberikan penalaran yang masuk akal dalam
memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem juga
menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk berusaha menyelesaikan permasalahan
yang dihadapi dengan mandiri merupakan upaya yang harus dilatih pada siswa
Kegiatan pembelajaran dirancang
untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M),
pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis
projek.
Guru jangan risih atau merasa
terganggu ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering
mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang
tinggi. Hal yang perlu dilakukan guru
adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung jawab kepada setiap
siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk
menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada
level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir
kritis siswa.
4. Creativity and Innovation
Guru perlu membuka ruang kepada
siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap
sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi
siswa untuk terus meningkatkan prestasinya.
Peran
guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar,
karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik.
Kreativitas dan berpikir
kewirausahaan juga merupakan keterampilan esensial di abad ke-21. Pertumbuhan
lapangan pekerjaan yang cepat dan industri yang sedang berkembang membutuhkan
kreativitas pekerja, termasuk kemampuan untuk berpikir yang tidak biasa (out
of the box), memikirkan kebijakan konvensional, membayangkan skenario baru
dan menghasilkan karya yang menakjubkan. Memiliki pola pikir kewirausahaan
(kemampuan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang dan kesanggupan untuk
bertanggung jawab dan menanggung resiko), memungkinkan seseorang untuk
menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Oleh karena
itu, siswa harus dilatih menjawab pertanyaan dan membuat keputusan dengan
cepat. Mereka juga harus dilatih untuk berpikir inovatif, mengamati dan
mengevaluasi peluang dan ide-ide baru. Namun demikian, penting untuk
diperhatikan bahwa ide-ide tersebut harus bermanfaat atau berdampak positif
bagi organisasi dan komunitas tempat tinggal atau kerja. Kegiatan kewirausahaan
di sekolah harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk
memimpin dan menumbuhkan otonomi yang lebih besar (P21, 2008). Pembelajaran
berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah dapat berjalan dengan baik,
guru harus merancang rencana kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa, dan tentu saja disesuaikan dengan kurikulum. Mungkin tidak mudah
menerapkan kedua model pembelajaran tersebut dengan standar alokasi waktu
perjam 45 – 50 menit seperti lazimnya, namun hal itu dapat diupayakan dengan
alternatif penjadwalan kegiatan belajar yang direncanakan dengan
sebaik-baiknya. Woods (2014) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek dan
pembelajaran berbasis masalah pada akhirnya memerlukan perubahan dalam peran
guru dari menjadi 'sumber pengetahuan' menjadi pelatih dan fasilitator untuk
memperoleh pengetahuan. Bagi sebagian guru, mungkin menimbulkan ketidaknyamanan
dengan adanya pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi
pembelajaran yang berpusat pada siswa ini.
Menurut
UU Sisdiknas Tahun 2003 No.20 Pasal 15, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan
menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang
tertentu. Pendidikan kejuruan akan efektif apabila siswa diperkenalkan dengan situasi
nyata untuk berfikir, bersikap, berperilaku seperti halnya pekerja di industri atau
di tempat kerja lainnya.
Pendidikan
kejuruan merupakan penyelenggaraan
jalur pendidikan formal yang dilaksanakan
pada jenjang pendidikan tingkat menengah yang bentuk satuan pendidikannya adalah
SMK. SMK memiliki berbagai bidang keahlian tertentu yang dipilih oleh siswa
sesuai
dengan minat, bakat dan potensi yang
ada pada diri siswa untuk bekal menuju dunia kerja. Oleh karena itu, siswa SMK
yang sudah dibekali keterampilan tersebut, juga perlu diberikan pendidikan
kewirausahaan untuk menumbuh kembangkan jiwa dan kompetensi wirausaha
pada siswa. Pendidikan kewirausahaan
menjadi penting diberikan kepada anak sejak dini mengingat maraknya budaya
instan pada anak-anak dan remaja di masa sekarang. Kondisi ini akan memperparah
budaya bangsa yang telah menderita karena beberapa kasus diberbagai
sektor. Padahal generasi muda mempunyai
peran yang strategis dalam memajukan bangsa, dimana keberhasilan bangsa di masa
depan tergantung pada kontribusi generasi muda. Oleh karena itu generasi muda
perlu diberikan
pendidikan kewirausahaan dalam rangka membangun
kemandirian diri dan bangsa Indonesia. Nilai-nilai kewirausahaan dapat
diintegrasikan untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan yang sesuai dengan perkembangan
siswa SMK.
Adapun
implementasi nilai-nilai kewirausahaan tersebut antara lain:
(1) mandiri,
(2) kreatif,
(3) berani mengambil resiko dan
bertanggungjawab,
(4)berorientasi pada tindakan untuk
mewujudkan gagasan,
(5) kepemimpinan,
(6) kerja keras,
(7) penguasaan konsep kewirausahaan,
dan
(8) Skill atau keterampilan dalam menjalankan
usaha. (Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas, 2010:53-54).
Dewasa
ini pendidikan kewirausahaan dimasukkan dalam setiap jenjang pendidikan termasuk
SMK. Salah satu program pendidikan kewirausahaan adalah Student Company (SC). Student company merupakan salah satu program pendidikan
kewirausahaan dengan cara membentuk perusahaan (company) siswa. Para siswa dilatih untuk menjadi
pemimpin perusahaan seperti direktur utama (CEO), direktur keuangan (CFO) dan
posisi penting lainnya. Dengan begitu, anak-anak memiliki bekal informasi
berbisnis seperti teori kepemimpinan, perencanaan bisnis, proses pengambilan
keputusan, studi pasar dan implementasinya. Bahkan, anak-anak tersebut akan
diberi ‘modal’
untuk memilih
jenis produk/ jasa yang paling sesuai untuk mereka (PJI, 2012:4).
Program
student
company bertujuan
untuk mengembangkan kompetensi wirausaha siswa. Skill atau kompetensi yang
menjadi sasaran antara lain kompetensi perakitan atau pembuatan produk,
menganalisa dan menginterpretasikan informasi, brainstorming, membangun konsensus, membaca secara
kritis, mengumpulkan dan mengorganisir informasi, penilaian diri dan kelompok,
interpretasi persediaan produksi, komunikasi secara lisan dan tertulis,
melakukan penelitian dan pengamatan, analisa produk, berbicara di depan umum,
penelitian, mengevaluasi informasi, menjual, dan bekerja dalam kelompok
(PJI,2012:8).
Sukses Story Wirausaha
Muda
Untuk mendukung kegiatan student company
terlebih dahulu peserta didik dapat diperlihatkan sukses story atau cara menuju
puncak karier wirausahawan . Dalam bagian ini akan diuraikan secara empiris profil
pengusaha dan pekerja yang sukses, serta sikap mentalnya
(dewichalim.files.wordpress.com/2009/05/profile-orang-sukses.pdf.
Diunduh tanggal 17 April 2012).
Elang Gumilang (Mahasiswa Miliader) Pengusaha
Properti
Elang Gumilang sudah tidak asing lagi
terdengar di telinga kita. Terlebih, ia adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan
Manajemen IPB. Kiprahnya di dunia usaha tidak perlu diragukan, banyak sudah
koleksi penghargaan
dan
prestasi yang diraihnya. Hal ini tidak datang dengan mudah. Elang merupakan
anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh (55) dan Hj. Prianti (45).
Elang terlahir dari keluarga yang berada, yaitu ayahnya
berprofesi
sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Setelah
Elang berbisnis donat, sepatu, dan lampu. Elang mulai melihat celah di bisnis
minyak goreng. Elang mulai menekuni berjualan minyak
goreng
ke warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan
puluhan jerigen, kemudian mengisi minyak goreng curah, dan mengirim ke
warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim
minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang
kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan
harinya. Akan tetapi, karena bisnis minyak ini 80% menggunakan otot, kuliahnya
terganggu. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. Elang mengaku selama
ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot daripada otak. Elang
berkonsultasi pada beberapa pengusaha dan dosennya untuk meminta nasihat.
Berdasarkan hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa berbisnis tidak
harus selalu menggunakan otot, dan banyak peluang bisnis yang tidak menggunakan
otot. Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis lembaga
bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif
apalagi di
kampus,
karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau kita dituntut untuk bisa
bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia patungan bersama kawan-kawannya.
Sebenarnya, ia bisa membiayai usaha itu sendiri, tetapi karena pengalaman saat
berjualan minyak, ia memutuskan untuk mengajak teman-temannya. Karena lembaga
kursusnya ditangani secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar
negeri, pihak Fakultas
Ekonomi
memercayakan lembaganya itu menjadi mitra.
Saat
ini, Elang telah memiliki perumahan untuk rakyat miskin dengan harga yang
terjangkau. Perumahan yang memiliki omset miliaran rupiah ini didirikan dengan
susah payah dan banyak sekali menyita waktu kuliahnya sehingga ia belum sempat
merasakan wisuda. Ia telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses dan sangat
membanggakan kedua orangtuanya.
Dari
contoh sukses story tersebut diatas diharapkan peserta didik dapat termotivasi
untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dalam diri mereka melalui bimbingan guru dalam
kegiatan student company.
Tahapan Dalam Kegiatan
Student Company
Siswa
dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 5 – 6 siswa yang
kemudian akan mengikuti kegiatan sebagai berikut:
1. Sosialisasi
Program
Langkah awal setelah
siswa termotivasi untuk memiliki usaha maka selanjutnya guru dapat menjelaskan
program dari student company ini. Mulai dari tujuan, manfaat, visi, misi,
nilai-nilai dan profil perusahaan serta tehnis pelaksanaan kegiatan.
Hasil diskusi kelompok
kecil tersebut kemudian dibawa dan dipresentasikan dalam kelompok besar untuk
diuji kelayakan dan hal-hal tehnis yang perlu diperbaiki guna menyempurnakan
ide yang telah mereka miliki pada tahap awal kegiatan student company ini.
Perubahan yang ada akan
selalu dikomunikasikan kepada pembimbing.
2. Membuat
Jadwal atau Skema Kalender
Jadwal
yang dibuat sebagai acuan kegiatan serta target operasional yang wajib ditaati
oleh kelompok agar semua kegiatan memiliki target waktu dan target kualitas
yang jelas.
3. Menentukan
Produk yang akan diproduksi
Dalam
menentukan produk yang akan dihasilkan siswa melakukan survei dan analisa pasar
terlebih dahulu. Siswa fokus pada produk makanan, fashion atau produk lain yang
sedang atau disukai konsumen, atau bisa jadi produk tersebut sesuai passion
dari siswa itu sendiri.
Produk
yang akan dijadikan fokus pun tidak terbatas hanya berupa barang tapi bisa juga
jasa. Sebagai contoh fokus produk yang dihasilkan adalah:
1. Handycraft
2. Budi
daya yang masa panennya maksimal 1 bulan
3. Aksesoris
4. Event
organizer
5. Media
pembelajaran
6. Produk
olahan makanan
7. Fashion
Pada
tahapan ini siswa melakukan kegiatan analisa SWOT sebelum menentukan produk apa
yang akan dihasilkan.
Untuk
membantu menilai kelayakan usaha dari sisi pemasaran dan persaingan, maka salah
satu analisis yang bisa kita lakukan adalah analisis SWOT. Analisis SWOT adalah
metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi yaitu Strenght
(kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threat (ancaman). Keempat
faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths,
weakness, opportunities, dan threats)
dengan memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bisnis yang akan kita
geluti tentunya akan membantu kita mengelola bisnis secara berkelanjutan.
Berikut akan dijelaskan masing-masing aspek dari analisis SWOT. Berikut akan
dijelaskan masing-masing aspek dari analisis SWOT.
a).
Strength (kekuatan)
Dengan
mengetahui kekuatan, kita seharusnya mampu meningkatkan lebih baik lagi
kekuatan usaha yang kita miliki. Mungkin saja dengan membuat ciri khas dari
usaha kita, akan membuat usaha kita dapat dibedakan dengan usaha sejenis yang
sudah mulai tumbuh.
b). Weakness (kelemahan)
Faktor
ini sebaiknya dianalisis dengan baik dan perlu dipikirkan bagaimana caranya
untuk dikurangi atau bahkan bisa diatasi lebih tuntas, sehingga posisi usaha
kita aman dari pesaing.
c). Opportunity (peluang)
Tentu
banyak peluang-peluang atau kesempatan yang bisa kita kembangkan dalam usaha
yang kita lakukan, baik mengembangkan lebih banyak produk ataupun mengekspansi
ke pasar yang lebih luas. Juga mungkin adanya peluang dengan hadirnya
teknologi-teknologi yang lebih membuat usaha kita makin maju dari sebelumnya.
d). Threats (ancaman)
Faktor
ini juga perlu kita perhatikan dalam pengembangan usaha kita. Jika kita lalai
dengan faktor ancaman bisa membuat usaha kita gulung tikar. Seperti adanya
inflasi ekonomi, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ekonomi. Dalam hal
ini siswa pun perlu mendapatkan informasi.
4.Business
Plan
Rencana
bisnis atau business plan adalah tahapan awal yang sebaiknya dilakukan oleh
seorang calon entrepreneur atau wirausaha.
Hal ini
wajib dilakukan setiap kita yang akan memulai sebuah usaha agar usaha yang
dilakukan sesuai tujuan yang akan dicapai dan memudahkan cara kerja kita jika
sebelumnya kita susun perencanaan yang matang.
Sumber pendanaan
Sumber pendanaan
dari pihak ketiga misal perbankan, investor atau modal ventura memerlukan
dokumen tertulis untuk mengetahui bisnis yang akan dibuat. Oleh sebab itu
tantangan pertama seorang calon entrepreneur adalah membuat rencana bisnis atau
business plan yang menjual.
Ada banyak versi
yang menjelaskan mengenai bisnis dan rencana bisnis. Salah satunya adalah
pendapat dari Garret Sutton seorang pakar dalam hukum bisnis dan penulis buku The
ABC’s of Writing Winning Business Plan, disebutkan bahwa “Bisnis adalah
sebuah rencana, bukan produk atau prosedur.” Perencanaan bisnis harus menjawab
3 pertanyaan penting bagi investor atau kreditur:
- Apakah saya dapat menghasilkan uang
dengan berinvestasi di bisnis ini? Pertanyaan ini ingin berusaha
menyakinkan kepada investor atau kreditur mengenai risiko dan imbal hasil,
jika mereka berinvestasi di bisnis Kita.
- Apakah saya menyukai dan mengerti
bisnis tempat saya berinvestasi ini?
- Apakah saya mempercayai orang-orang
dengan siapa saya berinvestasi?
5.Launching Dan Penjualan Saham Eksternal
Setelah segala sesuatunya
dipersiapkan secara matang tibalah saatnya melaunching kegiatan dengan agenda:
- Mempresentasikan
business plan perusahaan
·
Menampilkan contoh
produknya
·
Melakukan
penjualan saham kepada pihak eksternal
Contoh
agenda saat launching:
• Pembukaan
• Sambutan president director, perkenalan Tim dan
company profle.
• Presentasi business plan masing-masing divisi.
• Presentasi sistem pembelian saham dan perhitungan
pengembalian saham (maksimal 100 lembar @ 10.000, 1 orang maksimal 4 lembar).
• Tanya jawab
• Peresmian SC.
• Sambutan guru pembimbing SC.
• Penutup
• Penjualan saham.
6.Evaluasi
Kegiatan ini untuk menilai kembali seluruh kegiatan dan cara kerja
anggota dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing selama
perusahaan beroperasi.
7.Laporan
Akhir
• Masing-masing divisi membuat Laporan Akhir Perusahaan,
laporan dalam bentuk narasi dan deskripsi tentang apa saja yang telah
dilakukan, apa saja yang belum dilakukan, dan rekomendasi apakah yang dapat
diberikan.
• Laporan dibuat setelah seluruh kegiatan bisnis dihentikan.
• Semua biaya gaji dan biaya operasional harus sudah
dibayarkan. (tidak boleh ada hutang yg belum dibayar)
• Saham dan Deviden harus dibagikan pada saat likuidasi.
Divisi Public Relations menerima dan
mengumpulkan semua laporan akhir dari semua divisi, dan bertugas untuk
merapikannya dalam satu laporan akhir perusahaan yang lengkap. Laporan tersebut
nantinya diserahkan pada saat acara Likuidasi kepada guru.
Kisi-kisi dari laporan akhir adalah sebagai berikut:
• Halaman Judul, termasuk logo perusahaan (tugas divisi Marketing)
• Daftar Isi (tugas divisi Production)
• Company Overview I gambaran umum perusahaan (tugas President Director)
• Surat kepada para Pemegang Saham (tugas President Director)
• Laporan aktivitas bisnis (tugas semua VP)
• Laporan Likuidasi (tugas divisi Public Relations)
8.Likuidasi
• Pembukaan (MC 2
orang perwakilan dari masing-masing SC)
• Presentasi SC 1
dilanjutkan Presentasi SC 2 durasi maksimal @ 25 menit.
• Sambutan dari President Director Durasi mak
• Yel-yel kelompok.
• Presentasi laporan aktiftas bisnis oleh semua divisi.
(HRD, Prod, Marketing, Keu, PR)
• Tanya jawab panel untuk 2 SC (mak 10 menit)
• Pengembalian saham dan dividen secara simbolis kepada
perwakilan pemegang saham.
• Penyerahan Laporan akhir perusahaan kepada guru
(soft-file)
• Kesan dan pesan dari guru.
• Penutup dan doa.
• Pengembalian saham dan pembagian dividen kepada para
pemegang saham
Dibawah ini ada
beberapa contoh SC yang dilakukan
beberapa sekolah.
|
|
Seluruh
anggota Thirty-Boem SC berfoto bersama para guru, Olen (mentor dari PJI,
paling kiri), dan Pak Robert Gardiner (Direktur Eksekutif PJI)
|
Dear Achievers,
Pada hari Senin kemarin, tanggal 16 Februari 16, 2015, 29 siswa dari SMKN
30 Jakarta meluncurkan perusahaan siswa di sekolah. Mereka telah belajar
mengenai bisnis sejak semester lalu dan sekarang mereka belajar menerapkannya
langsung dengan membuka usaha yang sesungguhnya di tingkat sekolah. Kegiatan
ini merupakan bagian dari inisiatif dari Prestasi Junior Indonesia yang
didukung penuh oleh Citi Peka (pelaksana kegiatan citizenship Citi in
Indonesia) dengan tujuan utama untuk mengedukasi pelajar mengenai kewirausahaan
dan kemandirian ekonomi.
Anggota dari Student Company (SC) dari SMKN 30 yang menamakan diri mereka
Thirty-Boem SC, telah menyelenggarakan acara launching perusahaan siswa yang
sederhana namun bermakna. Mereka memulai dengan mempresentasikan profil
perusahaan mereka yang kemudian diikuti dengan business plan lengkap
dengan proyeksi keuangan. Sebuah prototipe produk, yaitu berupa tas tanpa
jahitan, juga ditunjukkan pada para undangan beserta analisis SWOT dan STP
(Segmenting, Targeting, Positioning). Seperti laiknya perusahaan nyata, tiap
anggota SC menjabat posisi masing-masing, muai dari President Director, Vice
President of Production, Finance, Marketing dsb.
Mereka juga mengundang beberapa pihak yang diharapkan akan membeli 'saham'
perusahaan untuk modal perusahaan. Metta, Vice President of Finance berkata,
"kami jual 75 saham untuk (investor) internal dan eksternal, tiap saham
nilainya Rp 20,000. Uangnya nanti buat produksi dan marketing untuk 5 bulan ke
depan"
|
|
Tas
tanpa jahitan bermerek Boem-Bag, produk Thirty-Boem SC, SMKN 30 Jakarta.
|
Para pengunjung yang hadir pada hari itu
tampak antusias mengikuti acara hingga habis, diantaranya, Kepala Sekolah SMKN
30, Ibu Komariah; guru-guru; Executive Director Prestasi Junior
Indonesia dan staffs, dan juga rekan dari Bear in Mind PR agency. Pada akhir
sesi, semua saham terjual habis. Adnin, President Director dari Thirty-Boem SC
mengungkapkan kelegaannya, "Alhamdulillah acaranya lancar, sekarang
jalanin bisnis, memasarkan tas Boem-Bag. Kami akan berusaha bikin para guru dan
sekolah bangga."
Setelah sesi foto, Ibu Komariah (Kepala Sekolah SMKN 30) menyalami anggota SC
satu persatu sambil berujar, "Saya sangat mendukung kegiatan positif ini,
dan saya bangga sekali pada kalian, ini adalah kesempatan yang bagus sekali
untuk kamu belajar. Tapi kalian harus lebih percaya diri lagi ya.. manfaatkan
ini sebaik mungkin"
SIGQuEL, Perusahaan Anak Muda yang Berangkat dari
Student Company
Dividen Sudah Tiga Kali Lipat
BUAH
PRESTASI: Anggota SIGQuEL menunjukkan piala dan tetenger penghargaan yang
mereka terima. (Debora Danisa/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this
image
Memulai
usaha memang tak pernah mudah, apalagi jika dimulai dari usia yang sangat muda.
Asam manis kehidupan belum dirasakan, namun sekumpulan anak muda Putat Jaya ini
tak gentar mencari pengalaman dan mendirikan perusahaan.
DEBORA
DANISA
HARI Minggu seharusnya paling pas diisi
dengan bersantai atau berkumpul bersama keluarga. Tapi, bukannya leyeh-leyeh di
rumah sambil makan kudapan, anak-anak muda di Putat Jaya ini malah sibuk
membuat camilan.
Produk
unggulan mereka adalah keripik bayam. Proses produksinya tidak sembarangan
karena mereka sudah bekerja dalam bentuk perusahaan mini. SIGQuEL namanya.
Penulisannya harus besar-kecil seperti itu. Sebab, nama tersebut menjadi brand.
Juga, menjadi akronim success, innovative, grow, quality, entrepreneur, and
loyalty.
Tetapi,
jangan bayangkan sebuah perusahaan yang menempati gedung megah bertingkat.
Jangan bayangkan pula karyawan perlente dengan seragam necis. Jumlah anggota
SIGQuEL tidak lebih dari 20 orang. ’’Pabrik” mereka pun sederhana.
Sampai
Januari lalu, mereka berproduksi di Kantor Kelurahan Putat Jaya. Baru seminggu
ini mereka usung-usung ke tempat baru di Rumah Kreatif Ikan milik pemkot.
Adalah Nur
Fatti Fazriati, 21, yang didapuk sebagai presiden perusahaan. Ketika ditemui
Jawa Pos, mahasiswa manajemen sumber daya manusia tersebut tengah memimpin
rapat bulanan SIGQuEL di tempat baru mereka.
Rapat Minggu
pagi itu berjalan dengan singkat dan efektif. Masing-masing divisi mempresentasikan
hasil kerja mereka selama Februari lalu. Divisi marketing menyampaikan hasil
penjualan, divisi HRD memaparkan jumlah gaji yang didapat masing-masing
anggota, dan divisi PR menjelaskan tentang hasil kerja sama perusahaan dengan
para stakeholder mereka.
’’Meskipun
masih perusahaan kecil, kami ingin ke depannya SIGQuEL juga menjadi besar,”
tutur Ria, sapaan akrab Nur Fatti. Itulah mengapa sejak awal mereka membentuk
divisi-divisi layaknya perusahaan sungguhan.
Anak-anak di
sana tidak bekerja secara percuma. Mereka juga mendapatkan gaji sesuai
keaktifan dalam proses produksi dan pemasaran. Meski, nominalnya tidak begitu
besar.
SIGQuEL
berdiri pada Maret 2016, tetapi baru launching resmi pada Agustus. Kelahirannya
merupakan buah CSR (corporate social responsibility) sebuah perusahaan asuransi
asal Korea Selatan yang bekerja sama dengan salah satu LSM yang bergerak di
bidang student company (SC). Di Surabaya ada tiga SC yang dibina. Namun,
SIGQuEL terbilang paling aktif dan berkembang pesat.
Terbukti, belum
genap setahun berdiri, kini SIGQuEL sudah dilepas perusahaan tersebut. ’’Mereka
bilang, kami sudah bisa mandiri,” ujar Ria. Di samping itu, kontrak mereka
dengan perusahaan pembina sudah habis per Desember 2016.
Sebagai
puncaknya, mereka menyabet beberapa penghargaan dalam ajang lomba antar SC di
bawah naungan perusahaan tersebut. Salah satunya sebagai The Best Spirit
Student Company. ’’Karena cepat berkembang, sampai-sampai kami diomongin,
’Kalian itu kadohan mlayune (terlalu jauh larinya, Red),’,” ungkap Ria.
Pemilihan
anggota SIGQuEL rupanya tak sembarangan. Sama dengan perusahaan umumnya, ada
proses rekrutmen dan tes. Ria bercerita, ada sekitar 60 pelajar dari Putat Jaya
dan sekitarnya yang mendaftar untuk SC itu. Hanya 20 orang yang diterima. Mereka
juga menjalani tes psikologi untuk menentukan posisi yang cocok di perusahaan.
Selain itu, latar belakang pendidikan mereka menjadi pertimbangan.
’’Sebenarnya
ini dikhususkan anak-anak Putat Jaya,” ujar Wahyu Aji Prakoso, vice president
PR SIGQuEL. Namun, pada awal pembentukan, tidak banyak anak Putat Jaya yang
tertarik. Perusahaan pembina pun membuka kesempatan bagi anak-anak dari
kelurahan lain di sekitar Putat Jaya. Ria dan Wahyu bukan dari Putat Jaya. Dia
arek Banyu Urip.
Nama SIGQuEL
adalah hasil rembukan para anggota. Awalnya mereka diminta membuat nama yang
lebih meng-Indonesia, misalnya Jayamahe. ’’Karena bingung, saya tanya saja ke
teman-teman, apa harapan mereka untuk perusahaan ini,” kata Ria. Setiap kata
yang disingkat menjadi SIGQuEL. Itulah asa yang terus mereka kejar hingga hari
ini.
Tak lagi di
bawah perusahaan swasta, SIGQuEL kini berada di bawah naungan Dinas Ketahanan
Pangan dan Pertanian Surabaya. Dinas itu juga yang akhirnya mengarahkan mereka
ke Rumah Kreatif Ikan. ’’Padahal, belum ada produk ikan. Masih keripik saja,”
terang Wahyu.
Mau tak mau,
mereka pun harus menambah inovasi produk yang berbau ikan. Jika awalnya mereka
hanya punya keripik bayam, baru-baru ini SIGQuEL menjajal resep samosa ikan dan
spring roll. Butuh beberapa kali trial and error. ’’Buat produk ikan itu agak
sulit, terutama menghilangkan bau amis ikannya,” tutur Ria.
Di samping
itu, status mereka bukan lagi SC, melainkan perusahaan pada umumnya. Sebab,
anggota mereka bukan cuma pelajar lagi. Ada pula ibu-ibu dari UKM lain di Putat
Jaya. Semula anak-anak SIGQuEL ditawari untuk mengurus manajemen UKM-UKM lain
di sana. Namun konsekuensinya, mereka tidak bisa memproduksi keripik bayam
lagi. Ria dan kawan-kawan memutuskan untuk tetap lanjut sebagai SIGQuEL agar
produk mereka tetap eksis. ’’Sayang kan sudah dibuat seperti ini, tahu-tahu
nanti hilang,” kata mahasiswi Universitas Negeri Surabaya itu.
Produk
keripik bayam tersebut merupakan ide alternatif di awal usaha mereka. Tadinya,
mereka mencoba untuk memproduksi makanan ringan dengan bahan utama
sayur-sayuran, sesuai dengan permintaan perusahaan pembina. Dipilihlah wortel.
’’Tapi,
wortel itu selalu menghasilkan warna oranye, mau diolah seperti apa pun
keripiknya jadi oranye. Mencurigakan,” cerita Ria. Lalu, mereka membuat keripik
versi orisinal saja dari kulit kebab. Baru setelah itu, mereka memunculkan
varian keripik bayam. Ternyata keripik bayam tersebut disukai konsumen. Jadilah
mereka mengembangkan keripik bayam hingga kini. Bahkan, sekarang sudah ada dua
rasa, barbekyu dan pedas.
Karena
anggotanya masih mengenyam pendidikan, tentu mereka tidak bisa berproduksi
setiap hari layaknya pabrik biasa. SIGQuEL biasanya melakukan produksi pada
Sabtu dan Minggu. Dalam sekali produksi, mereka bisa menghasilkan 15 resep. ’’Satu
resep idealnya bisa untuk 4 pak. Tapi, bisa jadi kurang atau lebih,” terang
Wahyu. Proses pembuatannya memakan waktu seharian, mulai pukul 09.00 hingga
17.00. Pernah juga sampai pukul 19.00. Sementara itu, rapat diadakan pada hari
biasa mulai pukul 19.00.
Kegiatan
yang memakan banyak waktu itu tentu sempat menjadi pertanyaan para orang tua.
Apalagi anggota yang datang dari luar Putat Jaya, seperti Banyu Urip. Ria
menuturkan, mungkin ada beberapa orang tua yang masih tak nyaman dengan citra
eks lokalisasi. ’’Makanya kami pernah mengadakan pertemuan dengan orang tua
buat ngasih lihat, ini lho yang dikerjakan anak-anak kalian,” ujar Ria. Dia
juga selalu mengingatkan anggotanya untuk segera pulang jika sudah di atas
pukul 21.00. ’’Kalau nggak mau pulang, ya kami antar sampai rumah,” imbuhnya.
Sejak awal
berdiri, SIGQuEL sudah membuka saham. Jumlahnya tak seberapa, tetapi jumlah
investor mereka sudah mencapai 75 orang. Tentu saja, 20 di antaranya adalah
anggota mereka sendiri. Sisanya adalah orang tua anggota, teman-teman, maupun
warga Putat Jaya. Tidak disangka, keuntungan bagi pemegang saham mereka sampai
tiga kali lipat dari saham awal. ’’Tapi, mereka memutuskan untuk tidak
mengambil keuntungan itu. Semuanya dihibahkan untuk pengembangan perusahaan,”
jelas Wahyu.
Sebagai
sebuah perusahaan, tentu SIGQuEL harus memenuhi banyak persyaratan. Mereka
harus punya surat izin usaha perdagangan (SIUP), sertifikat dari Badan Pengawas
Obat dan Makanan (BPOM), serta sertifikat pangan industri rumah tangga (PIRT).
’’Sudah kami ajukan akhir Februari lalu, sekarang masih proses dan dibantu oleh
kelurahan dan dinas,” jelas lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga
tersebut.
Mereka juga
mempersiapkan inovasi desain produk dan interior. Gara-garanya, mereka mendapat
masukan langsung dari Wali Kota Tri Rismaharini. ’’Waktu gelar tani di balai
kota, Bu Risma bilang desain kemasannya harus diganti supaya lebih menarik,”
ungkap Wahyu. SIGQuEL pun baru-baru ini menjalin kerja sama dengan Surabaya
Creative Network untuk mendesain ulang produk dan ruang produksi mereka.
Kesuksesan
mereka tak terlepas dari proses belajar yang tidak pernah berhenti. Ria selalu
mewanti-wanti anggotanya untuk mau membagikan ilmu apa saja yang mereka kuasai
demi kemajuan perusahaan. Mereka juga rutin mengikuti seminar-seminar wirausaha
karena mereka sadar tak bisa memanggil pembicara sendiri. ’’Pokoknya pulang
seminar, harus ada yang dibagikan ke teman-teman,” tegasnya.
Tak heran,
perusahaan mini mereka cukup sering dikunjungi sebagai UKM percontohan. Baru
saja mereka menerima tamu dari siswa SMA Korea Selatan pada Senin (20/2). Pada
Maret ini, mereka juga bakal kedatangan tamu dari Brunei Darussalam.
Keinginan
SIGQuEL saat ini adalah berkontribusi untuk mengubah wajah eks lokalisasi Dolly
menjadi kampung produktif dengan banyak UKM. ’’Rencananya, rumah kreatif ini
juga jadi pusat kegiatan UKM di Putat Jaya,” ujar Wahyu. Untuk itu, SIGQuEL
akan membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi anak-anak muda, khususnya di
Putat Jaya, untuk bergabung. Syaratnya, harus serius dan jangan sampai
mengganggu sekolah. (*/c7/dos/sep/JPG)