Jumat, 23 Agustus 2019

Student Company


Apa itu student company??? Sebelum kita membahas apa itu student company (SC) terlebih dahulu kita tengok kurikulum abad 21. Pada kurikulum 2013 diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21. Hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif. Adapun pembelajaran abad 21 mencerminkan empat hal. 
1.   Communication
Abad 21 adalah abad digital. Komunikasi dilakukan melewati batas wilayah negara dengan menggunakan perangkat teknologi yang semakin canggih. Internet sangat membantu manusia dalam berkomunikasi. Saat ini begitu banyak media sosial yang digunakan sebagai sarana untuk berkomunikasi.
Melalui smartphone yang dimilikinya, dalam hitungan detik, manusia dapat dengan mudah terhubung ke seluruh dunia.
2.   Collaboration
Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, karena pada dasarnya manusia disamping sebagai seorang individu, juga makhluk sosial. Saat ini banyak orang yang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvard University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skill. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang.

3.    Critical Thinking and Problem Solving
 Memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antara sistem juga menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dengan mandiri merupakan upaya yang harus dilatih pada siswa
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek.
Guru jangan risih atau merasa terganggu ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi. Hal yang perlu dilakukan guru adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.

4.     Creativity and Innovation
Guru perlu membuka ruang kepada siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk terus meningkatkan prestasinya.
Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik.
Kreativitas dan berpikir kewirausahaan juga merupakan keterampilan esensial di abad ke-21. Pertumbuhan lapangan pekerjaan yang cepat dan industri yang sedang berkembang membutuhkan kreativitas pekerja, termasuk kemampuan untuk berpikir yang tidak biasa (out of the box), memikirkan kebijakan konvensional, membayangkan skenario baru dan menghasilkan karya yang menakjubkan. Memiliki pola pikir kewirausahaan (kemampuan untuk mengenali dan memanfaatkan peluang dan kesanggupan untuk bertanggung jawab dan menanggung resiko), memungkinkan seseorang untuk menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, siswa harus dilatih menjawab pertanyaan dan membuat keputusan dengan cepat. Mereka juga harus dilatih untuk berpikir inovatif, mengamati dan mengevaluasi peluang dan ide-ide baru. Namun demikian, penting untuk diperhatikan bahwa ide-ide tersebut harus bermanfaat atau berdampak positif bagi organisasi dan komunitas tempat tinggal atau kerja. Kegiatan kewirausahaan di sekolah harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk memimpin dan menumbuhkan otonomi yang lebih besar (P21, 2008). Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah dapat berjalan dengan baik, guru harus merancang rencana kegiatan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, dan tentu saja disesuaikan dengan kurikulum. Mungkin tidak mudah menerapkan kedua model pembelajaran tersebut dengan standar alokasi waktu perjam 45 – 50 menit seperti lazimnya, namun hal itu dapat diupayakan dengan alternatif penjadwalan kegiatan belajar yang direncanakan dengan sebaik-baiknya. Woods (2014) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis masalah pada akhirnya memerlukan perubahan dalam peran guru dari menjadi 'sumber pengetahuan' menjadi pelatih dan fasilitator untuk memperoleh pengetahuan. Bagi sebagian guru, mungkin menimbulkan ketidaknyamanan dengan adanya pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa ini.
Menurut UU Sisdiknas Tahun 2003 No.20 Pasal 15, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan kejuruan akan efektif apabila siswa diperkenalkan dengan situasi nyata untuk berfikir, bersikap, berperilaku seperti halnya pekerja di industri atau di tempat kerja lainnya.
Pendidikan kejuruan merupakan penyelenggaraan
jalur pendidikan formal yang dilaksanakan pada jenjang pendidikan tingkat menengah yang bentuk satuan pendidikannya adalah SMK. SMK memiliki berbagai bidang keahlian tertentu yang dipilih oleh siswa sesuai
dengan minat, bakat dan potensi yang ada pada diri siswa untuk bekal menuju dunia kerja. Oleh karena itu, siswa SMK yang sudah dibekali keterampilan tersebut, juga perlu diberikan pendidikan kewirausahaan untuk menumbuh kembangkan jiwa dan kompetensi wirausaha
pada siswa. Pendidikan kewirausahaan menjadi penting diberikan kepada anak sejak dini mengingat maraknya budaya instan pada anak-anak dan remaja di masa sekarang. Kondisi ini akan memperparah budaya bangsa yang telah menderita karena beberapa kasus diberbagai
sektor. Padahal generasi muda mempunyai peran yang strategis dalam memajukan bangsa, dimana keberhasilan bangsa di masa depan tergantung pada kontribusi generasi muda. Oleh karena itu generasi muda perlu diberikan
pendidikan kewirausahaan dalam rangka membangun kemandirian diri dan bangsa Indonesia. Nilai-nilai kewirausahaan dapat diintegrasikan untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan yang sesuai dengan perkembangan siswa SMK.
Adapun implementasi nilai-nilai kewirausahaan tersebut antara lain:
(1) mandiri,
(2) kreatif,
(3) berani mengambil resiko dan bertanggungjawab,
(4)berorientasi pada tindakan untuk mewujudkan gagasan,
(5) kepemimpinan,
(6) kerja keras,
(7) penguasaan konsep kewirausahaan, dan
 (8) Skill atau keterampilan dalam menjalankan usaha. (Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas, 2010:53-54).
            Dewasa ini pendidikan kewirausahaan dimasukkan dalam setiap jenjang pendidikan termasuk SMK. Salah satu program pendidikan kewirausahaan adalah Student Company (SC). Student company merupakan salah satu program pendidikan kewirausahaan dengan cara membentuk perusahaan (company) siswa. Para siswa dilatih untuk menjadi pemimpin perusahaan seperti direktur utama (CEO), direktur keuangan (CFO) dan posisi penting lainnya. Dengan begitu, anak-anak memiliki bekal informasi berbisnis seperti teori kepemimpinan, perencanaan bisnis, proses pengambilan keputusan, studi pasar dan implementasinya. Bahkan, anak-anak tersebut akan diberi ‘modal’ untuk memilih jenis produk/ jasa yang paling sesuai untuk mereka (PJI, 2012:4).
Program student company bertujuan untuk mengembangkan kompetensi wirausaha siswa. Skill atau kompetensi yang menjadi sasaran antara lain kompetensi perakitan atau pembuatan produk, menganalisa dan menginterpretasikan informasi, brainstorming, membangun konsensus, membaca secara kritis, mengumpulkan dan mengorganisir informasi, penilaian diri dan kelompok, interpretasi persediaan produksi, komunikasi secara lisan dan tertulis, melakukan penelitian dan pengamatan, analisa produk, berbicara di depan umum, penelitian, mengevaluasi informasi, menjual, dan bekerja dalam kelompok (PJI,2012:8).

Sukses Story Wirausaha Muda
Untuk mendukung kegiatan student company terlebih dahulu peserta didik dapat diperlihatkan sukses story atau cara menuju puncak karier wirausahawan . Dalam bagian ini akan diuraikan secara empiris profil pengusaha dan pekerja yang sukses, serta sikap mentalnya
(dewichalim.files.wordpress.com/2009/05/profile-orang-sukses.pdf. Diunduh tanggal 17 April 2012).
 Elang Gumilang (Mahasiswa Miliader) Pengusaha Properti
Elang Gumilang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Terlebih, ia adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. Kiprahnya di dunia usaha tidak perlu diragukan, banyak sudah koleksi penghargaan
dan prestasi yang diraihnya. Hal ini tidak datang dengan mudah. Elang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan H. Enceh (55) dan Hj. Prianti (45). Elang terlahir dari keluarga yang berada, yaitu ayahnya
berprofesi sebagai kontraktor, sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Setelah Elang berbisnis donat, sepatu, dan lampu. Elang mulai melihat celah di bisnis minyak goreng. Elang mulai menekuni berjualan minyak
goreng ke warung-warung. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, ia harus membersihkan puluhan jerigen, kemudian mengisi minyak goreng curah, dan mengirim ke warung-warung Pasar Anyar, serta Cimanggu, Bogor. Setelah selesai mengirim minyak goreng, ia kembali ke kampus untuk kuliah. Sepulang kuliah, Elang kembali mengambil jerigen-jerigen di warung untuk diisi kembali keesokan harinya. Akan tetapi, karena bisnis minyak ini 80% menggunakan otot, kuliahnya terganggu. Elang pun memutuskan untuk berhenti berjualan. Elang mengaku selama ini ia berbisnis lebih banyak menggunakan otot daripada otak. Elang berkonsultasi pada beberapa pengusaha dan dosennya untuk meminta nasihat. Berdasarkan hasil konsultasi, Elang mendapat pencerahan bahwa berbisnis tidak harus selalu menggunakan otot, dan banyak peluang bisnis yang tidak menggunakan otot. Setelah mendapat berbagai masukan, Elang mulai merintis bisnis lembaga bahasa Inggris di kampusnya. “Bisnis bahasa Inggris ini sangat prospektif apalagi di
kampus, karena ke depan dunia semakin global dan mau tidak mau kita dituntut untuk bisa bahasa Inggris,” jelasnya. Adapun modalnya, ia patungan bersama kawan-kawannya. Sebenarnya, ia bisa membiayai usaha itu sendiri, tetapi karena pengalaman saat berjualan minyak, ia memutuskan untuk mengajak teman-temannya. Karena lembaga kursusnya ditangani secara profesional dengan tenaga pengajar dari lulusan luar negeri, pihak Fakultas
Ekonomi memercayakan lembaganya itu menjadi mitra.
Saat ini, Elang telah memiliki perumahan untuk rakyat miskin dengan harga yang terjangkau. Perumahan yang memiliki omset miliaran rupiah ini didirikan dengan susah payah dan banyak sekali menyita waktu kuliahnya sehingga ia belum sempat merasakan wisuda. Ia telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses dan sangat membanggakan kedua orangtuanya.
Dari contoh sukses story tersebut diatas diharapkan peserta didik dapat termotivasi untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dalam diri mereka melalui bimbingan guru dalam kegiatan student company.
Tahapan Dalam Kegiatan Student Company
Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang beranggotakan 5 – 6 siswa yang kemudian akan mengikuti kegiatan sebagai berikut:
1.    Sosialisasi Program
Langkah awal setelah siswa termotivasi untuk memiliki usaha maka selanjutnya guru dapat menjelaskan program dari student company ini. Mulai dari tujuan, manfaat, visi, misi, nilai-nilai dan profil perusahaan serta tehnis pelaksanaan kegiatan.
Hasil diskusi kelompok kecil tersebut kemudian dibawa dan dipresentasikan dalam kelompok besar untuk diuji kelayakan dan hal-hal tehnis yang perlu diperbaiki guna menyempurnakan ide yang telah mereka miliki pada tahap awal kegiatan student company ini.
Perubahan yang ada akan selalu dikomunikasikan kepada pembimbing.
2.    Membuat Jadwal atau Skema Kalender
Jadwal yang dibuat sebagai acuan kegiatan serta target operasional yang wajib ditaati oleh kelompok agar semua kegiatan memiliki target waktu dan target kualitas yang jelas.
3.    Menentukan Produk yang akan diproduksi
Dalam menentukan produk yang akan dihasilkan siswa melakukan survei dan analisa pasar terlebih dahulu. Siswa fokus pada produk makanan, fashion atau produk lain yang sedang atau disukai konsumen, atau bisa jadi produk tersebut sesuai passion dari siswa itu sendiri.
Produk yang akan dijadikan fokus pun tidak terbatas hanya berupa barang tapi bisa juga jasa. Sebagai contoh fokus produk yang dihasilkan adalah:
1.    Handycraft
2.    Budi daya yang masa panennya maksimal 1 bulan
3.    Aksesoris
4.    Event organizer
5.    Media pembelajaran
6.    Produk olahan makanan
7.    Fashion
Pada tahapan ini siswa melakukan kegiatan analisa SWOT sebelum menentukan produk apa yang akan dihasilkan.
Untuk membantu menilai kelayakan usaha dari sisi pemasaran dan persaingan, maka salah satu analisis yang bisa kita lakukan adalah analisis SWOT. Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi yaitu Strenght (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang) dan Threat (ancaman). Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weakness, opportunities, dan threats) dengan memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bisnis yang akan kita geluti tentunya akan membantu kita mengelola bisnis secara berkelanjutan. Berikut akan dijelaskan masing-masing aspek dari analisis SWOT. Berikut akan dijelaskan masing-masing aspek dari analisis SWOT.
a). Strength (kekuatan)
Dengan mengetahui kekuatan, kita seharusnya mampu meningkatkan lebih baik lagi kekuatan usaha yang kita miliki. Mungkin saja dengan membuat ciri khas dari usaha kita, akan membuat usaha kita dapat dibedakan dengan usaha sejenis yang sudah mulai tumbuh.
b). Weakness (kelemahan)
Faktor ini sebaiknya dianalisis dengan baik dan perlu dipikirkan bagaimana caranya untuk dikurangi atau bahkan bisa diatasi lebih tuntas, sehingga posisi usaha kita aman dari pesaing.
c). Opportunity (peluang)
Tentu banyak peluang-peluang atau kesempatan yang bisa kita kembangkan dalam usaha yang kita lakukan, baik mengembangkan lebih banyak produk ataupun mengekspansi ke pasar yang lebih luas. Juga mungkin adanya peluang dengan hadirnya teknologi-teknologi yang lebih membuat usaha kita makin maju dari sebelumnya.
d). Threats (ancaman)
Faktor ini juga perlu kita perhatikan dalam pengembangan usaha kita. Jika kita lalai dengan faktor ancaman bisa membuat usaha kita gulung tikar. Seperti adanya inflasi ekonomi, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ekonomi. Dalam hal ini siswa pun perlu mendapatkan informasi.
4.Business Plan
Rencana bisnis atau business plan adalah tahapan awal yang sebaiknya dilakukan oleh seorang calon entrepreneur atau wirausaha.
Hal ini wajib dilakukan setiap kita yang akan memulai sebuah usaha agar usaha yang dilakukan sesuai tujuan yang akan dicapai dan memudahkan cara kerja kita jika sebelumnya kita susun perencanaan yang matang.

Sumber pendanaan

Sumber pendanaan dari pihak ketiga misal perbankan, investor atau modal ventura memerlukan dokumen tertulis untuk mengetahui bisnis yang akan dibuat. Oleh sebab itu tantangan pertama seorang calon entrepreneur adalah membuat rencana bisnis atau business plan yang menjual.
Ada banyak versi yang menjelaskan mengenai bisnis dan rencana bisnis. Salah satunya adalah pendapat dari Garret Sutton seorang pakar dalam hukum bisnis dan penulis buku The ABC’s of Writing Winning Business Plan, disebutkan bahwa “Bisnis adalah sebuah rencana, bukan produk atau prosedur.” Perencanaan bisnis harus menjawab 3 pertanyaan penting bagi investor atau kreditur:
  • Apakah saya dapat menghasilkan uang dengan berinvestasi di bisnis ini? Pertanyaan ini ingin berusaha menyakinkan kepada investor atau kreditur mengenai risiko dan imbal hasil, jika mereka berinvestasi di bisnis Kita.
  • Apakah saya menyukai dan mengerti bisnis tempat saya berinvestasi ini?
  • Apakah saya mempercayai orang-orang dengan siapa saya berinvestasi?
5.Launching Dan Penjualan Saham Eksternal
            Setelah segala sesuatunya dipersiapkan secara matang tibalah saatnya melaunching kegiatan dengan agenda:
  • Mempresentasikan business plan perusahaan
·           Menampilkan contoh produknya
·           Melakukan penjualan saham kepada pihak eksternal
Contoh agenda saat launching:
      Pembukaan
      Sambutan president director, perkenalan Tim dan company profle.
      Presentasi business plan masing-masing divisi.
      Presentasi sistem pembelian saham dan perhitungan pengembalian saham (maksimal 100 lembar @ 10.000, 1 orang maksimal 4 lembar).
      Tanya jawab
      Peresmian SC.
      Sambutan guru pembimbing SC.
      Penutup
      Penjualan saham.

6.Evaluasi
Kegiatan ini untuk menilai kembali seluruh kegiatan dan cara kerja anggota dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing selama perusahaan beroperasi.
7.Laporan Akhir
      Masing-masing divisi membuat Laporan Akhir Perusahaan, laporan dalam bentuk narasi dan deskripsi tentang apa saja yang telah dilakukan, apa saja yang belum dilakukan, dan rekomendasi apakah yang dapat diberikan.
      Laporan dibuat setelah seluruh kegiatan bisnis dihentikan.
      Semua biaya gaji dan biaya operasional harus sudah dibayarkan. (tidak boleh ada hutang yg belum dibayar)
      Saham dan Deviden harus dibagikan pada saat likuidasi.
Divisi Public Relations menerima dan mengumpulkan semua laporan akhir dari semua divisi, dan bertugas untuk merapikannya dalam satu laporan akhir perusahaan yang lengkap. Laporan tersebut nantinya diserahkan pada saat acara Likuidasi kepada guru. Kisi-kisi dari laporan akhir adalah sebagai berikut:
      Halaman Judul, termasuk logo perusahaan (tugas divisi Marketing)
      Daftar Isi (tugas divisi Production)
      Company Overview I gambaran umum perusahaan (tugas President Director)
      Surat kepada para Pemegang Saham (tugas President Director)
      Laporan aktivitas bisnis (tugas semua VP)
      Laporan Likuidasi (tugas divisi Public Relations)
8.Likuidasi
      Pembukaan (MC  2 orang perwakilan dari masing-masing SC)
      Presentasi SC 1  dilanjutkan  Presentasi SC 2  durasi maksimal @ 25 menit.
      Sambutan dari President Director  Durasi mak
      Yel-yel kelompok.
      Presentasi laporan aktiftas bisnis oleh semua divisi. (HRD, Prod, Marketing,  Keu, PR)
      Tanya jawab panel untuk 2 SC (mak 10 menit)
      Pengembalian saham dan dividen secara simbolis kepada perwakilan pemegang saham.
      Penyerahan Laporan akhir perusahaan kepada guru (soft-file)
      Kesan dan pesan dari guru.
      Penutup dan doa.
      Pengembalian saham dan pembagian dividen kepada para pemegang saham
Dibawah ini ada beberapa contoh SC yang dilakukan beberapa sekolah.

SMKN 30 Jakarta Launching Student Company dengan Produk Tas Daur Ulang dengan Tips Menarik

Seluruh anggota Thirty-Boem SC berfoto bersama para guru, Olen (mentor dari PJI, paling kiri), dan Pak Robert Gardiner (Direktur Eksekutif PJI)

Dear Achievers,

Pada hari Senin kemarin, tanggal 16 Februari 16, 2015, 29 siswa dari SMKN 30 Jakarta meluncurkan perusahaan siswa di sekolah. Mereka telah belajar mengenai bisnis sejak semester lalu dan sekarang mereka belajar menerapkannya langsung dengan membuka usaha yang sesungguhnya di tingkat sekolah. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif dari Prestasi Junior Indonesia yang didukung penuh oleh Citi Peka (pelaksana kegiatan citizenship Citi in Indonesia) dengan tujuan utama untuk mengedukasi pelajar mengenai kewirausahaan dan kemandirian ekonomi.

Anggota dari Student Company (SC) dari SMKN 30 yang menamakan diri mereka Thirty-Boem SC, telah menyelenggarakan acara launching perusahaan siswa yang sederhana namun bermakna. Mereka memulai dengan mempresentasikan profil perusahaan mereka yang kemudian diikuti  dengan business plan lengkap dengan proyeksi keuangan. Sebuah prototipe produk, yaitu berupa tas tanpa jahitan, juga ditunjukkan pada para undangan beserta analisis SWOT dan STP (Segmenting, Targeting, Positioning). Seperti laiknya perusahaan nyata, tiap anggota SC menjabat posisi masing-masing, muai dari President Director, Vice President of Production, Finance, Marketing dsb.

Mereka juga mengundang beberapa pihak yang diharapkan akan membeli 'saham' perusahaan untuk modal perusahaan. Metta, Vice President of Finance berkata, "kami jual 75 saham untuk (investor) internal dan eksternal, tiap saham nilainya Rp 20,000. Uangnya nanti buat produksi dan marketing untuk 5 bulan ke depan"
Tas tanpa jahitan bermerek Boem-Bag, produk Thirty-Boem SC, SMKN 30 Jakarta
Para pengunjung yang hadir pada hari itu tampak antusias mengikuti acara hingga habis, diantaranya, Kepala Sekolah SMKN 30, Ibu Komariah; guru-guru; Executive Director Prestasi Junior Indonesia dan staffs, dan juga rekan dari Bear in Mind PR agency. Pada akhir sesi, semua saham terjual habis. Adnin, President Director dari Thirty-Boem SC mengungkapkan kelegaannya, "Alhamdulillah acaranya lancar, sekarang jalanin bisnis, memasarkan tas Boem-Bag. Kami akan berusaha bikin para guru dan sekolah bangga."

Setelah sesi foto, Ibu Komariah (Kepala Sekolah SMKN 30) menyalami anggota SC satu persatu sambil berujar, "Saya sangat mendukung kegiatan positif ini, dan saya bangga sekali pada kalian, ini adalah kesempatan yang bagus sekali untuk kamu belajar. Tapi kalian harus lebih percaya diri lagi ya.. manfaatkan ini sebaik mungkin"
SIGQuEL, Perusahaan Anak Muda yang Berangkat dari Student Company
Dividen Sudah Tiga Kali Lipat
BUAH PRESTASI: Anggota SIGQuEL menunjukkan piala dan tetenger penghargaan yang mereka terima. (Debora Danisa/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image
Memulai usaha memang tak pernah mudah, apalagi jika dimulai dari usia yang sangat muda. Asam manis kehidupan belum dirasakan, namun sekumpulan anak muda Putat Jaya ini tak gentar mencari pengalaman dan mendirikan perusahaan.


DEBORA DANISA
HARI Minggu seharusnya paling pas diisi dengan bersantai atau berkumpul bersama keluarga. Tapi, bukannya leyeh-leyeh di rumah sambil makan kudapan, anak-anak muda di Putat Jaya ini malah sibuk membuat camilan.
Produk unggulan mereka adalah keripik bayam. Proses produksinya tidak sembarangan karena mereka sudah bekerja dalam bentuk perusahaan mini. SIGQuEL namanya. Penulisannya harus besar-kecil seperti itu. Sebab, nama tersebut menjadi brand. Juga, menjadi akronim success, innovative, grow, quality, entrepreneur, and loyalty.
Tetapi, jangan bayangkan sebuah perusahaan yang menempati gedung megah bertingkat. Jangan bayangkan pula karyawan perlente dengan seragam necis. Jumlah anggota SIGQuEL tidak lebih dari 20 orang. ’’Pabrik” mereka pun sederhana.
Sampai Januari lalu, mereka berproduksi di Kantor Kelurahan Putat Jaya. Baru seminggu ini mereka usung-usung ke tempat baru di Rumah Kreatif Ikan milik pemkot.
Adalah Nur Fatti Fazriati, 21, yang didapuk sebagai presiden perusahaan. Ketika ditemui Jawa Pos, mahasiswa manajemen sumber daya manusia tersebut tengah memimpin rapat bulanan SIGQuEL di tempat baru mereka.
Rapat Minggu pagi itu berjalan dengan singkat dan efektif. Masing-masing divisi mempresentasikan hasil kerja mereka selama Februari lalu. Divisi marketing menyampaikan hasil penjualan, divisi HRD memaparkan jumlah gaji yang didapat masing-masing anggota, dan divisi PR menjelaskan tentang hasil kerja sama perusahaan dengan para stakeholder mereka.
’’Meskipun masih perusahaan kecil, kami ingin ke depannya SIGQuEL juga menjadi besar,” tutur Ria, sapaan akrab Nur Fatti. Itulah mengapa sejak awal mereka membentuk divisi-divisi layaknya perusahaan sungguhan.
Anak-anak di sana tidak bekerja secara percuma. Mereka juga mendapatkan gaji sesuai keaktifan dalam proses produksi dan pemasaran. Meski, nominalnya tidak begitu besar.
SIGQuEL berdiri pada Maret 2016, tetapi baru launching resmi pada Agustus. Kelahirannya merupakan buah CSR (corporate social responsibility) sebuah perusahaan asuransi asal Korea Selatan yang bekerja sama dengan salah satu LSM yang bergerak di bidang student company (SC). Di Surabaya ada tiga SC yang dibina. Namun, SIGQuEL terbilang paling aktif dan berkembang pesat.
Terbukti, belum genap setahun berdiri, kini SIGQuEL sudah dilepas perusahaan tersebut. ’’Mereka bilang, kami sudah bisa mandiri,” ujar Ria. Di samping itu, kontrak mereka dengan perusahaan pembina sudah habis per Desember 2016.
Sebagai puncaknya, mereka menyabet beberapa penghargaan dalam ajang lomba antar SC di bawah naungan perusahaan tersebut. Salah satunya sebagai The Best Spirit Student Company. ’’Karena cepat berkembang, sampai-sampai kami diomongin, ’Kalian itu kadohan mlayune (terlalu jauh larinya, Red),’,” ungkap Ria.
Pemilihan anggota SIGQuEL rupanya tak sembarangan. Sama dengan perusahaan umumnya, ada proses rekrutmen dan tes. Ria bercerita, ada sekitar 60 pelajar dari Putat Jaya dan sekitarnya yang mendaftar untuk SC itu. Hanya 20 orang yang diterima. Mereka juga menjalani tes psikologi untuk menentukan posisi yang cocok di perusahaan. Selain itu, latar belakang pendidikan mereka menjadi pertimbangan.
’’Sebenarnya ini dikhususkan anak-anak Putat Jaya,” ujar Wahyu Aji Prakoso, vice president PR SIGQuEL. Namun, pada awal pembentukan, tidak banyak anak Putat Jaya yang tertarik. Perusahaan pembina pun membuka kesempatan bagi anak-anak dari kelurahan lain di sekitar Putat Jaya. Ria dan Wahyu bukan dari Putat Jaya. Dia arek Banyu Urip.
Nama SIGQuEL adalah hasil rembukan para anggota. Awalnya mereka diminta membuat nama yang lebih meng-Indonesia, misalnya Jayamahe. ’’Karena bingung, saya tanya saja ke teman-teman, apa harapan mereka untuk perusahaan ini,” kata Ria. Setiap kata yang disingkat menjadi SIGQuEL. Itulah asa yang terus mereka kejar hingga hari ini.
Tak lagi di bawah perusahaan swasta, SIGQuEL kini berada di bawah naungan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Surabaya. Dinas itu juga yang akhirnya mengarahkan mereka ke Rumah Kreatif Ikan. ’’Padahal, belum ada produk ikan. Masih keripik saja,” terang Wahyu.
Mau tak mau, mereka pun harus menambah inovasi produk yang berbau ikan. Jika awalnya mereka hanya punya keripik bayam, baru-baru ini SIGQuEL menjajal resep samosa ikan dan spring roll. Butuh beberapa kali trial and error. ’’Buat produk ikan itu agak sulit, terutama menghilangkan bau amis ikannya,” tutur Ria.
Di samping itu, status mereka bukan lagi SC, melainkan perusahaan pada umumnya. Sebab, anggota mereka bukan cuma pelajar lagi. Ada pula ibu-ibu dari UKM lain di Putat Jaya. Semula anak-anak SIGQuEL ditawari untuk mengurus manajemen UKM-UKM lain di sana. Namun konsekuensinya, mereka tidak bisa memproduksi keripik bayam lagi. Ria dan kawan-kawan memutuskan untuk tetap lanjut sebagai SIGQuEL agar produk mereka tetap eksis. ’’Sayang kan sudah dibuat seperti ini, tahu-tahu nanti hilang,” kata mahasiswi Universitas Negeri Surabaya itu.
Produk keripik bayam tersebut merupakan ide alternatif di awal usaha mereka. Tadinya, mereka mencoba untuk memproduksi makanan ringan dengan bahan utama sayur-sayuran, sesuai dengan permintaan perusahaan pembina. Dipilihlah wortel.
’’Tapi, wortel itu selalu menghasilkan warna oranye, mau diolah seperti apa pun keripiknya jadi oranye. Mencurigakan,” cerita Ria. Lalu, mereka membuat keripik versi orisinal saja dari kulit kebab. Baru setelah itu, mereka memunculkan varian keripik bayam. Ternyata keripik bayam tersebut disukai konsumen. Jadilah mereka mengembangkan keripik bayam hingga kini. Bahkan, sekarang sudah ada dua rasa, barbekyu dan pedas.
Karena anggotanya masih mengenyam pendidikan, tentu mereka tidak bisa berproduksi setiap hari layaknya pabrik biasa. SIGQuEL biasanya melakukan produksi pada Sabtu dan Minggu. Dalam sekali produksi, mereka bisa menghasilkan 15 resep. ’’Satu resep idealnya bisa untuk 4 pak. Tapi, bisa jadi kurang atau lebih,” terang Wahyu. Proses pembuatannya memakan waktu seharian, mulai pukul 09.00 hingga 17.00. Pernah juga sampai pukul 19.00. Sementara itu, rapat diadakan pada hari biasa mulai pukul 19.00.
Kegiatan yang memakan banyak waktu itu tentu sempat menjadi pertanyaan para orang tua. Apalagi anggota yang datang dari luar Putat Jaya, seperti Banyu Urip. Ria menuturkan, mungkin ada beberapa orang tua yang masih tak nyaman dengan citra eks lokalisasi. ’’Makanya kami pernah mengadakan pertemuan dengan orang tua buat ngasih lihat, ini lho yang dikerjakan anak-anak kalian,” ujar Ria. Dia juga selalu mengingatkan anggotanya untuk segera pulang jika sudah di atas pukul 21.00. ’’Kalau nggak mau pulang, ya kami antar sampai rumah,” imbuhnya.
Sejak awal berdiri, SIGQuEL sudah membuka saham. Jumlahnya tak seberapa, tetapi jumlah investor mereka sudah mencapai 75 orang. Tentu saja, 20 di antaranya adalah anggota mereka sendiri. Sisanya adalah orang tua anggota, teman-teman, maupun warga Putat Jaya. Tidak disangka, keuntungan bagi pemegang saham mereka sampai tiga kali lipat dari saham awal. ’’Tapi, mereka memutuskan untuk tidak mengambil keuntungan itu. Semuanya dihibahkan untuk pengembangan perusahaan,” jelas Wahyu.
Sebagai sebuah perusahaan, tentu SIGQuEL harus memenuhi banyak persyaratan. Mereka harus punya surat izin usaha perdagangan (SIUP), sertifikat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta sertifikat pangan industri rumah tangga (PIRT). ’’Sudah kami ajukan akhir Februari lalu, sekarang masih proses dan dibantu oleh kelurahan dan dinas,” jelas lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga tersebut.
Mereka juga mempersiapkan inovasi desain produk dan interior. Gara-garanya, mereka mendapat masukan langsung dari Wali Kota Tri Rismaharini. ’’Waktu gelar tani di balai kota, Bu Risma bilang desain kemasannya harus diganti supaya lebih menarik,” ungkap Wahyu. SIGQuEL pun baru-baru ini menjalin kerja sama dengan Surabaya Creative Network untuk mendesain ulang produk dan ruang produksi mereka.
Kesuksesan mereka tak terlepas dari proses belajar yang tidak pernah berhenti. Ria selalu mewanti-wanti anggotanya untuk mau membagikan ilmu apa saja yang mereka kuasai demi kemajuan perusahaan. Mereka juga rutin mengikuti seminar-seminar wirausaha karena mereka sadar tak bisa memanggil pembicara sendiri. ’’Pokoknya pulang seminar, harus ada yang dibagikan ke teman-teman,” tegasnya.
Tak heran, perusahaan mini mereka cukup sering dikunjungi sebagai UKM percontohan. Baru saja mereka menerima tamu dari siswa SMA Korea Selatan pada Senin (20/2). Pada Maret ini, mereka juga bakal kedatangan tamu dari Brunei Darussalam.
Keinginan SIGQuEL saat ini adalah berkontribusi untuk mengubah wajah eks lokalisasi Dolly menjadi kampung produktif dengan banyak UKM. ’’Rencananya, rumah kreatif ini juga jadi pusat kegiatan UKM di Putat Jaya,” ujar Wahyu. Untuk itu, SIGQuEL akan membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi anak-anak muda, khususnya di Putat Jaya, untuk bergabung. Syaratnya, harus serius dan jangan sampai mengganggu sekolah. (*/c7/dos/sep/JPG)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar